BACA JUGA:Gawat, Marah Besar! Warga Geruduk Ponpes Al Zaytun Indramayu, Minta Dibubarkan
BACA JUGA:Menelisik Sejarah YPJ 1977 dan Unbari sebagai PTS Tertua di Jambi
"Why? Ibadah itu ada standartnya, ada tuntunannya dan ingat syarat diterima ibadahnya itu adalah iman, ikhlas dan idibaru Rosul sesuai dengan sunah Rosul," tutur pak Ndul.
"Asli mas, saya tidak pernah melihat ini kecuali pada aliran-aliran yang sudah dinyatakan sesat oleh pihak berwenang," lanjutnya.
Pak Ndul mengungkapkan, tentang bercampurnya jamaah laki-laki dan perempuan di sekitar Kabah itu merupakan uzur syar'i yaitu berupa kedaruratan dan ini sudah banyak dibahas oleh para ulama.
Dan tentunya ini tidak applicable pada kondisi umum.
BACA JUGA:Bocah Meninggal Dunia Tergilas Mobil saat Asik Bermain, Begini Kronologinya..
BACA JUGA:PLN Kolaborasi dengan Periklindo Gelar Pameran PEVS 2023
"Mas, tinggalkan pendapat apa bila sudah ada hadis yang mutawatir, tidak ada keraguan menjadi ijma jumhur ulama dan apa bila tidak ada unsur ke daruratan," tegasnya.
"Kemudian itu adanya kursi di samping sajadah entah untuk apa, kemudian jamaah shalat yang berjarak apakah karena Covid? Kalau alasan Covid kenapa tidak pakai masker.," paparnya.
"Kemudian imam yang seharusnya sujud tapi malah duduk, apa bila alasannya itu sakit kenapa tidak diganti dengan imam yang lain?" tanya pak Ndul.
"Jelas ini menjadi kontroversi di masyarakat dan kita tunggu saja verifikasi dari MUI, dari Kemenag dan dari pihak berwenang lainnya," tukasnya.
Artikel ini juga sudah tayang di Disway.id, dengan judul Ustaz Adi Hidayat Singgung Saf Salat Lelaki Campur Wanita di Balik Hebohnya Al Zaytun: 'Diambil Jarak agar Tak Bercampur'