Desa dan Politik

Ilustrasi. -ist/jambi-independent.co.id-Web dakwah.com
Oleh: Ali Fauzi
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Saat mudik lebaran di kampung, Brebes Jawa Tengah (Jateng), saya juga sempatkan kongkow dengan teman-teman. Terutama yang sebaya.
Biasanya kami bertemu beberapa teman di masjid dekat rumah. Usai sholat kami lesehan di beranda masjid.
Hal-hal yang kali pertama ditanyakan tak jauh dari soal anak-cucu. Juga tentang kesehatan.
Mereka umumnya sudah ‘’pensiun.’’ Misalnya yang tadinya bertani, kini tak pernah lagi ke sawah. Yang dulunya berdagang di Jakarta kini diam di rumah.
BACA JUGA:Hasil Liga Prancis: PSG Juara Usai Tumbangkan Angers 1-0, Trofi Ke-13 Sepanjang Sejarah
‘’Wis ora kuat maning, dengkule lara (sudah tak kuat lagi, lututnya sakit),’’ ujar Tajid, sambil selonjoran dan mengelus-elus kedua dengkulnya.
Dengan mengayuh sepeda, dia dulunya kulakan beras di beberapa desa tetangga. Lantas dijualnya di pasar.
Saya sebenarnya ingin mereka mengobrol hal-hal terkait pertanian. Seperti lagi musim tanam apa sekarang. Bagaimana dengan pupuk dan obat tanaman kini?
‘’Saiki laka wong sing gelem ning sawah. Luruh kuli sulit nemen. Umpama ana, bayare larang nemen. Obat garem ya larang nemen. Pokoke dadi wong tani saiki tekor. Mulane saiki akeh sawah nganggur,’’ kata Imron.
BACA JUGA:Hasil Liga Inggris: Everton Tahan Arsenal 1-1, Penalti Ndiaye Gagalkan Kemenangan The Gunners
Artinya: Sekarang tidak ada yang mau bertani. Cari kuli sulit sekali. Kalau pun ada, upahnya sangat mahal. Obat pupuk juga sangat mahal. Pokoknya jadi petani sekarang tekor. Makanya sekarang banyak sawah nganggur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: