Lebat dan Gelap

Lebat dan Gelap

Tulisan tentang perjalanan libur lebaran 2025.-ANTARA-

JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Libur lebaran 2025 saya sekeluarga mudik usai sholat Idul Fitri. Tepat pukul 09.00 tancap gas.

Normalnya perjalanan via tol dari Ciputat Timur (Tangsel/Jakarta) sampai Jatibarang (Brebes, Jateng), sekitar 360 km, cukup 5.5 jam. Plus sekali rehat 30 menit di rest area

Tapi perjalanan mudik kemarin sampai sembilan jam lebih. Sama dengan lama perjalanan dua kali mudik lebaran tahun-tahun sebelumnya. Meski durasi perjalanan sama, tapi penyebab molornya perjalanan kali ini beda. 

Jumlah pemudik lebaran tahun ini memang menurun dari lebaran tahun 2024. Kementerian Perhubungan mencatat, jumlah pemudik tahun ini 146,48 juta orang. Turun sekitar 24 persen dari tahun lalu yang sampai 193,6 juta orang (Kompas.com, 31/1). 

BACA JUGA:Kabar Gembira! Harga BBM Turun Lagi Mulai 4 April 2025, Ini Daftar Lengkapnya

BACA JUGA:Bukan Cuma Lezat, Apel Rebus Bisa Bikin Usus Kamu Lebih Sehat! Ini Penjelasannya

Saat mudik di hari pertama lebaran kemarin, sejak dari gerbang tol Pondok Ranji (Ciputat Timur) hingga keluar via gerbang tol Brexit, alias Brebes Timur, sebenarnya lalu lintas lancar. Tapi cuaca tak mendukung.

Arus kendaraan hari itu tentu tak sepadat dalam sepekan sebelumnya. Yang sampai-sampai diterapkan satu arah. Juga diberlakukan ganjil-genap.

Siang itu, saat kami rehat di rest area km 57 tol Japek (Jakarta-Cikampek), terik matahari sangat menyengat. Memasuki km 100 tol Cipali mulai mendung. Lantas gelap. Mendekati km 135, mulai hujan. Makin lama tambah lebat. Juga makin gelap. 

Jarak pandang menjadi tak sampai 100 meter. Nyaris semua mobil menyalakan lampu hazard. Lalu lintas pun merayap. Yang tadinya bisa 90 km/jam, terpaksa cuma 30 km/jam. 

BACA JUGA:Bukan Cuma Gaya, Rambut Butuh Napas! Cek 5 Sinyal Anda Harus Istirahat dari Wig dan Kepang

BACA JUGA:Ini Prediksi Puncak Arus Balik Lebaran 2025, Serta Jadwal One Way Libur Idul Fitri

Untuk lebih aman, saya pilih lajur kiri. Tapi, dalam situasi agak horor itu, sering ada bus tiba-tiba menyalip dari sisi kiri (bahu jalan). Tentu bikin kaget. Agar tak begitu kaget, selain fokus ke depan, saya kerap tengok spion kanan-kiri.

Bukan cuma kaget. Bus yang ‘’nyelonong’’ ngebut itu membuat genangan air di bahu jalan terasa menghempas mobil-mobil di jalur sebelah kanannya. Mobil terasa oleng. Meski wiper distel maksimal, hempasan air itu tetap membuat pandangan kami dari dalam mobil tertutup untuk beberapa detik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: